Fungsi Beda, Bobot Kesulitan Sama

Jum`at, 23 Januari 2015 20:50:42 - Posting by redaksi - 210 views

Fungsi Beda, Bobot Kesulitan Sama

Bukan menjadi alat penentu kelulusan, bukan berarti Ujian Nasional tidak ada lagi menjadi momok bagi peserta didik. Setidaknya hal itu bakal tergambar dari kualitas soal UN 2015 yang dipastikan tidak banyak berubah dibandingkan UN tahun sebelumnya. Kepala Pusat Penilaian Pendidikan (Puspendik) Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) kemdikbud, Nizam memastikan bahwa meskipun fungsi UN bergeser menjadi alat pemetaan pendidikan, kisi-kisinya tidak mengalami perubahan.

                “Secara teknis pelaksanaan, tidak ada perubahan signifikan. Misalnya untuk jumlah butir soal ujian juga harus digarap siswa, jumlah butir soal dan waktu penyelesaiannya tetap sama,” terang Nizam.

                Lebih jauh dijelaskan Nizam, untuk ujian mata pelajaran (mapel) bahasa Indonesia di Kelas III SMA tetap 50 butir dan alokasi waktunya 120 menit. Kemudian butir soal ujian mapel matematika juga masih 40 butir dengan alokasi waktu 120 menit. Pihaknya saat ini sudah menyiapkan butir-butir soal untuk UN 2015. Proses berikutnya adalah, butir-butir soal iti di-review oleh tim khusus yang identitasnya dirahasiakan. Tujuannya adalah mengantisipasi kebocoran soal ujian dari panitia tingkat pusat.

                “Setelah butir-butir soal ujian itu di-review tahap berikutnya adalah revisi pamungkas. Lalu butir-butir soal itu dirangkai menjadi paket soal ujian dan siap untuk digandakan oleh percetakan-percetakan yang memenangi tender,” lanjut Nizam.

                Selain butir soal ujian. Pembobotan kesulitan naskah ujian juga sama denagan unas tahun lalu. Komposisinya adalah soal kategori sulit berjumlah 20 persen, kategori sedang 70 persen, dan kategori ringan atau mudah 10 persen. Dengan komposisi bobot kesulitan itu, banyak siswa yang mengeluh soal-soal UN 2014 sulit-sulit. Bahkan ada siswa yang sempat mengeluh soal yang mereka kerjakan levelnya perguruan tinggi.

                “ Kami tidak akan mundur meskipun ada siswa yang mengeluh. Dengan persiapan yang bagus, siswa diharapkan bisa mengerjakan soal-soal yang diujikan,” tegasnya.

                Peneliti pendidikan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Titik Handayani menuturkan, penentukaan kelulusan UN di tangan guru atau sekolah memang tidak menutup potensi “jual-beli” nilai ujian. Praktek ini diantaranya terjadi kepada anak yang tidak mampu secara akademik, tetapi orangtuanya memiliki kemampuan finansial baik. “Tapi ingat, sekolah itu tempat menanamkan nilai-nilai kejujuran,”jelasnya.

 

                Dia berharap para guru tidak bisa diintervensi oleh siapapun saat menilai hasil ujian sekolah siswanya. Sehingga bisa memupuk iklim berkompetisi yang baik diantara para siswa. Jika tingkat akedimik siswa di sekolah tentu masih rendah, sekolah tidak perlu malu untuk tidak meluluskannya..her -KP

Tags #beda #bobot #fungsi #kesulitan #sama